Festival Pasola

nyale
NYALE

Ritual perang adat antara dua kelompok berkuda yang gagah berani, saling berhadapan, kejar-mengejar seraya melempar lembing kayu kearah lawan. Walau pihak pemerintah kini mengharuskan ujung lembing ditumpulkan, tetap saja pasola merupakan ritual berbahaya, tak jarang ada yang terluka bahkan meninggal dunia. Menurut keyakinan setempat, musibah terjadi karena jiwa si korban belum tersucikan atau ada pelanggran yang dilakukannya. Darah yang tumpah dianggap sebagai persembahan kepada dewa bumi agar tanah menjadi subur dan terhindar dari hama.

Perayaan Pasola,  khususnya di Wanokaka, selalu didahului dengan ritual Madidi Nyale (pemanggilan Nyale) sejenis cacing laut yang hanya muncul setahun sekali. Penduduk asli Sumba percaya banyaknya nyale yang muncul saat upacara berlangsung merupakan pertanda panen bakal melimpah. sementara jika nyale hanya sedikit maka sebaliknyalah yang akan terjadi. Atraksi Pasola sendiri. Berakar dari legenda cinta segi tiga yang nyaris menimbulkan perang antar kampung.

1655573620X310
RITUAL ADAT RATO ADAT PASOLA
thediplomat_2014-09-15_04-32-56
KESATRIA PASOLA

Seorang Rato memilih hari yang penuh berkah untuk Pasola, sebuah kata yang berawal dari lembing yang dikenal sebagai ‘sola’ atau ‘hola’ dalam bahasa lokalnya. Namun setelah dibubuhi menjadi ‘pasola’, makna pun berubah menjadi ‘permainan’. Sungguh pun acap kali memakan korban, pasola tetap berpacu di tanah Sumba sebagai permainan penawar duka; duka seorang leluhur atas hilangnya belahan jiwa.

Konon, seorang pemuka adat bernama Umbu Dulla dari Waiwuang, Sumba Barat, berkelana dengan dua pemuka adat lainnya, Ngongo Tau Masusu dan Yagi Waikareri. Meninggalkan istrinya Rabu Kaba untuk beberapa lama, Umbu Dulla dikabarkan tewas tenggelam di laut ganas. Kesedihan melanda Rabu Kaba, hingga suatu hari seorang pria bernama Teda Gaiparona dari Kodi, semenanjung barat Pulau Sumba, dapat mencairkan cinta Rabu Kaba yang lama membeku. Keduanya dilanda asmara dan berniat untuk menikah.

Sayangnya, pihak keluarga dari keduanya tak merestui. Maka Rabu Kaba dan Teda pergi untuk kawin lari. Hari berganti minggu hingga datanglah Umbu Dulla dengan dua kawannya dari perantauan, menggugurkan kabar burung kematian mereka. Kengerian warga tak sebanding dengan kesedihan Umbu Dulla yang dipaksa keadaan bahwa istrinya telah lari bersama Teda. Tapi Umbu Dulla tak murka walau permintaan agar Rabu Kaba kembali tak dihormati.

Tekanan batin Rabu Kaba yang jelita semakin memuncak, dihimpit cinta terhadap Teda dan kisahnya sebagai istri Umbu Dulla yang tak berujung kepastian. Dilema ini akhirnya ditutup dengan permintaan Rabu Kaba kepada Teda untuk mengganti belis, persembahan keluarga Umbu Dulla dulu saat melamar.Menyanggupi belis yang harus diganti, Teda akhirnya direstui untuk menikah secara sah dengan Rabu Kaba, oleh masyarakat dan khususnya Umbu Dulla.

Untuk menghalau kesedihan, Umbu Dulla memerintahkan diadakannya pesta yang sekarang dikenal dengan Pasola, perayaan rasa sukur terhadap panen yang melimpah setelah melalui penangkapan nyale, cacing laut yang selalu mengundang ceria dan syukur pada masyarakat Nusa Tenggara. Pasola sejak hari itu menjadi tradisi dan sebuah agenda lanjutan dari pesta bau nyale, mencari cacing laut yang sebenarnya melambangkan pelipur lara kehilangan seorang kekasih hati Umbu Dulla, yaitu Rabu Kaba.