Home > Budaya Megalitik > Batu Kubur

Batu Kubur

MASIH ada julukan lain bagi Sumba, kali ini diberikan oleh para arkeolog yaitu The Living Megalithic Culture. Tidak berlebihan juga karena tradisi megalitik (batu besar) yang muncul sekitar 4500 tahun lalu masih setia dipraktekkan oleh pengikutnya di pulau ini. Di Sumba Barat bangunan megalitik dapat ditemukan hampir dimana saja, di setiap kampung tradisioanal pasti ada, di bawah kampung, di pinggir jalan, bahkan di halamam kantor polres dan rumah jabatan Bupati juga ada. Bangunan megalitik di Sumba umumnya berupa kubur batu yang dihiasi arca dan relief-relief menarik. Karena percaya dengan konsep kehidupan setelah mati, orang Sumba tak pernah bisa jauh dari kerabat yang telah meninggal dan untuk menjaga kedekatan itu mereka mendirikan batu kubur tepat di depan rumah-rumah mereka. Rumah adat dan batu kubur adalah satu paket yang tak terpisahkan, rumah sebagai tempat tinggal yang masih hidup dan batu kubur sebagai tempat tinggal yang telah almarhum. Batu kubur selalu dibuat besar dan megah, selain sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur sekaligus sebagai cerminan kebesaran dan kebangsawanan pemiliknya, jadi semacam simbol status juga.

Berdasarkan bentuknya tinggalan megalitik di Sumba Barat dapat dibedakan menjadi enam jenis yaitu:
  1. Watu pawa'i: Batu kubur besar berupa meja batu (dolmen) yang ditopang oleh beberapa batu bulat yang berfungsi sebagai kaki atau penyangga. Watu pawa'i ada yang berkaki 4, bekaki 6 bahkan ada pula yang berkaki banyak. Biasanya menjadi kuburan raja-raja dan golongan bangsawan. Akan tetapi watu pawa'i ini tidak selalu menjadi kuburan, ada juga yang dibangun hanya sebagai monumen agung. Yang berfungsi sebagai kuburan biasanya dilengkapi batu kubur berukuran lebih kecil yang ditempat persis di bawah watu pawai.

  2. Watu Kuoba: Berupa batu utuh yang dipahat membentuk peti dengan lempengan batu lebar sebagai penutup. Batu jenis ini ada yang berhias ada pula yang tidak. Pola hiasnya lebih sederhana dan terletak pada bagian peti batu. Ko'ang umumnya dipakai sebagai kuburan golongan menengah dan keluarganya.

  3. Koro Watu: Batu kubur jenis ini terbentuk dari 6 lempengan batu yang disusun menjadi peti batu. 1 sebagai dasar, 1 sebagai penutup dan 4 lainnya diletakkan di masing-masing sisi. Koru Watu biasanya langsung diletakkan di atas tanah tanpa perlengkapan lainnya.
  4. Kurukata: varian lain dari Koro Watu dengan dua lempeng penutup bagian atas yang ditumpuk jadi satu.

  5. Watumanyoba: Bentuknya sederhana, hanya berupa lempengan batu tanpa kaki yang langsung diletakkan di tanah. Ada beragam model Watumanyoba: lempengan segi empat, persegi panjang, bulat telur dan lainnya. Watumanyoba umumnya digunakan sebagai kuburan para hamba, sehingga sering kali ditemukan bersisian dengan kuburan para raja.

  6. Kaduwatu: Batu tegak lurus (penji) berhiaskan beragam ukiran. Biasanya merupakan pasangan batu kubur lain, terutama dari jenis Watu Pawa'i. Berfungsi sebagai pernanda arah kepala atau kaki si mayat sekaligus sebagai simbol bangsawan.

Pola Hias

POLA hias bangunan megalitik di Sumba Barat umumnya berupa pahatan tiga dimensi berbentuk arca serta pahatan dua dimensi berbentuk relief. Pola hias ini sangat variatif, juga dipengaruhi zaman hingga menjadi kian kreatif. Ada yang berupa sulur-sulur, huruf "S", dan lingkaran memusat yang oleh para ahli dikatakan sebagai warisan zaman pra sejarah. Ada pula yang menggambarkan tokoh manusia, binatang serta pola-pola geometris dari era yang lebih muda. Perkembangan bentuk pola hias megalitik Sumba sangat dipengaruhi oleh kepercayaan religius serta status pemiliknya. Sifat kehalusan dan kebijaksanaan seorang bangsawan biasanya dipahat dengan simbol hewan atau benda alam seperti bulan dan bintang. Sementara sifat keagungan dan kebesarannya disimbolkan dengan benda-benda seperti tombak, parang, pedang serta bermacam ragam perhiasan. Hewan piaraan yang mereka miliki juga menjadi sumber inspirasi. Semakin kaya seorang raja, semakin megah pula ukiran-ukiran yang menghiasi batu kuburnya. Pengaruh lingkungan juga muncul dalam pola hias, berupa pahatan-pahatan yang berkaitan dengan kehidupan satwa seperti kakatua, kerbau, anjing, kuda, ikan, kadal dan buaya (Haris Sukendar, 2003).

Menurut Haris Sukendar, pola hias megalitik Sumba yang sangat beragam ini merupakan satu-satunya pola hias yang mewakili tradisi pra sejarah yang masih hidup (living megalithic culture). Tempat-tempat seperti Nias, Sabu, Flores dan Timor sebetulnya memiliki tradis sejenis dan sejaman tetapi tidak ada yang disertai pahatan-pahatan indah baik berupa arca maupun relief seperti yang ditemukan di pulau Sumba.